Semua akan setuju jika disebutkan bahwa stroke dan sepsis adalah dua dari abnormalitas tubuh yang paling mematikan. Sepsis adalah keadaan emergensi medis ketika tubuh bereaksi terhadap kerusakan secara berlebihan dan tidak terkontrol. Sepsis dapat berakhir dengan kerusakan organ hingga kematian jika tidak segera ditangani, sedangkan stroke adalah terjadinya gangguan/blokade aliran darah ke otak sehingga menyebabkan otak yang merupakan organ vital tak dapat berfungsi semestinya akibat kekurangan suplai darah. Tetapi, bagaimana jika disebutkan bahwa stroke dan sepsis ternyata memiliki kesamaan yang bisa jadi target terapi?

Sumber: Unsplash.com/Richard Catabay
Baik sepsis maupun stroke melibatkan proses inflamasi yang dapat terjadi secara berlebihan. Proses inflamasi sebenarnya terjadi dengan tujuan awal yang baik, yaitu memperbaiki sel-sel yang rusak setelah terjadinya cedera. Akibat kurangnya aliran darah pada otak, maka otak mengalami kerusakan sel yang kemudian direspons tubuh dengan inflamasi. Sepsis pun merupakan proses inflamasi, yang terjadi pasca-infeksi. Hanya saja inflamasi yang terjadi pada dua kondisi ini terjadi berlebihan dan tidak terkontrol. Alih-alih memperbaiki sel-sel yang rusak, inflamasi berkepanjangan ini justru menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Oleh sebab itu, target baru yang sedang diincar para peneliti adalah bagaimana caranya menekan inflamasi eksesif ini!
Saat ini, perhatian besar sedang dialamatkan pada komponen sistem imun tubuh, yaitu neutrofil. Komponen sel darah putih ini berperan dalam mengoordinasikan respons sistem imun terhadap kerusakan sel/jaringan ini. Tetapi, neutrofil dapat berespons berlebihan contohnya pada saat berespons terhadap sepsis dan stroke. Akumulasi neutrofil pada sel sehat dapat memicu kerusakan lebih lanjut karena neutrofil di titik ini tidak dapat membedakan mana sel yang rusak/musuh dan mana yang bukan. Yang mereka lakukan hanya menyerang secara membabi buta dengan melepaskan protein-protein berbahaya ke dalam aliran darah. Neutrofil akan membunuh bakteri sekaligus membunuh sel-sel sehat.
Sebenarnya ini bukan pertama kali peneliti menargetkan neutrofil. Obat yang dihasilkan sebelumnya untuk menyasar neutrofil gagal karena tidak hanya menyerang neutrofil aktif, tetapi juga neutrofil yang berada dalam fase istirahat di sum-sum tulang belakang yang tidak berbahaya.
Tetapi, tampaknya penelitian sudah mulai dekat dengan solusi masalah ini, yaitu dengan menyasar neutrofil aktif dengan bantuan nanopartikel bermuatan doksorubisin. Nanopartikel ini akan masuk ke dalam neutrofil dan melepaskan doksorubisin yang akan merusak neutrofil. Agar selektif terhadap neutrofil aktif, nanopartikel dirancang untuk mengenali dan hanya masuk melalui reseptor Fc-gamma yang diekspresikan lebih banyak oleh neutrofil aktif. [Nurhajati Husen & Barrarah Bariid]
Sumber:
Medicalnewstoday.com

