
Ibu adalah sekolah pertama bagi anak, harus diakui bukan sekedar pepatah saja, tetapi betul secara apa adanya, dan yang perlu digarisbawahi adalah perasaan/emosi sang ibu memainkan peranan penting dalam kemampuan belajar anak-anaknya. Penelitian dari Universitas Cambridge mengungkapkan bahwa ketika seorang ibu punya emosi yang positif, maka interaksinya dengan sang anak akan menghasilkan mega-network yang membantu perkembangan otak bayi dan kemampuannya belajar.
Melalui penelitian yang memanfaatkan EEG (elektroensefalografi), diketahui bahwa saat bayi dan ibunya berinteraksi, maka gelombang otak keduanya akan saling bersinkronisasi. Efek ini disebut hubungan neural interpersonal (interpersonal neural connectivity) dengan frekuensi 6-9 hertz. Frekuensi ini masuk kisaran gelombang alfa bagi bayi. Gelombang alfa merupakan gelombang otak pada saat seseorang merasa tenang dan rileks.
Ketika ibu dalam kondisi emosi positif, maka otaknya dan otak sang bayi akan sangat terhubung. Interaksi positif seperti banyaknya kontak mata, dapat meningkatkan kemampuan bayi dan ibu untuk beroperasi sebagai satu sistem terpadu sehingga keduanya dapat saling berbagi dan mengalirkan informasi. Ketika hal ini terjadi, maka bayi akan lebih reseptif untuk belajar apapun dari sang ibu. Pada tahap ini, otak bayi memiliki kemungkinan sangat tinggi untuk berubah secara positif, salah satunya adalah meningkatnya kapasitas mental.
Sebaliknya, ketika emosi sang ibu negatif, maka koneksi neural akan berkurang sehingga interaksi dengan bayinya juga akan berkurang. Umumnya, ibu-ibu yang punya emosi negatif ini akan berbicara dengan bayinya dengan intonasi yang lebih datar, kontak mata yang lebih jarang, serta kurang responsif saat bayinya mencoba mencari perhatian. Oleh karena itu, wahai para ibu, berbahagialah!
Apakah ibu bahagia maka anaknya lebih cerdas, memang belum pasti. Tetapi yang pasti, anak akan lebih mudah belajar saat ibunya punya emosi yang positif, dan ini adalah modal bagus bagi anak untuk memaksimalkan kapasitas belajarnya.[Nurhajati Husen & Barrarah Bariid]
Sumber:
https://www.sciencedaily.com/releases/2019/12/191217105210.htm

