February 4, 2020 Admin 0Comment
Gambar: globalhealth.duke.edu

Salah satu ancaman dunia saat ini adalah munculnya berbagai virus hewan yang berpindah inang dari hewan ke manusia (zoonosis). Beberapa tahun terakhir, dunia sempat sangat gempar dengan kemunculan virus SARS, lalu flu burung, ebola, dan yang terbaru adalah virus corona jenis baru 2019-nCoV. Virus-virus ini tadinya merupakan virus pada hewan yang menjangkiti manusia yang memakan hewan-hewan yang mengandung virus-virus ini. Pada awalnya, penyebaran virus hanya dapat terjadi dari hewan ke manusia, tetapi kemudian bisa bermutasi dan menyebar antara sesama manusia. Pada kondisi ini, penyebaran bisa berlangsung sangat cepat dan karena merupakan virus baru, obat dan vaksin untuk pengobatan dan pencegahan belum tersedia sehingga terciptalah wabah mematikan sebagaimana yang terjadi di Wuhan saat ini. Tetapi bagaimana proses virus-virus ini berpindah dan menyebar pada manusia?

Proses peralihan inang dari hewan ke manusia tidak terjadi serta merta. Ada 3 tahapan yang dilalui virus untuk berpindah inang, yaitu 1) paparan infeksi tunggal pertama terhadap inang baru tanpa menyebabkan infeksi lebih lanjut, 2) virus melimpah yang kemudian memicu penyebaran lokal, 3) penyebaran epidemik-endemik berkelanjutan antar-jenis inang baru (manusia). Infeksi awal (proses 1) adalah prekondisi agar virus dapat melakukan adaptasi dengan inang baru. Di dalam tubuh manusia, virus melakukan adaptasi yang kemudian memungkinkannya untuk hidup dalam tubuh manusia dan menyebar antar-manusia.

Kasus zoonosis ini terjadi terutama karena aktivitas manusia itu sendiri. Perburuan hewan dan peningkatan populasi yang diikuti ekspansi tempat tinggal menyebabkan kontak dengan hewan meningkat. Deforestasi yang dilakukan dalam proses ekspansi ruang hidup manusia menyebabkan virus yang tadinya hanya beredar di antara penghuni hutan dapat menyebar ke manusia. Sebelum menjadi wabah virus yang menyebar antar-manusia, virus dasarnya butuh paparan berulang pada manusia.  Adaptasi virus dari inang asal ke inang baru juga berpengaruh dan jenis inang awal juga menentukan. Ada beberapa virus yang berpindah inang sesama hewan dulu sebelum menginfeksi manusia, misalnya MERS yang berpindah inang dari kelelawar-unta-manusia. Ada juga yang langsung dengan manusia, misalnya virus ebola yang bisa berpindah dari kelewar-simpanse-manusia atau langsung kelelawar-manusia.

Kelelawar sendiri merupakan inang dari berbagai jenis virus. Namun, kelelawar mampu bertahan karena sistem imunnya mampu melawan virus-virus ini, dan hanya bersifat sebagai reservoir virus. Kekhasan lain dari kelelawar adalah karena ia merupakan mamalia yang bisa terbang sehingga kedekatannya dengan manusia (sama-sama mamalia) memungkinkan virus yang berasal dari kelelawar lebih mudah beradaptasi dengan inang manusia.

Secara umum, virus zoonosis seperti ini umumnya hanya merupakan infeksi terbatas yang jarang menjadi epidemi. Tetapi setiap jiwa adalah berharga yang perlu dilindungi secara maksimal. Dengan mengetahui proses pergantian host (pejamu), pengalaman bagaimana wabah meneror, jumlah korban baik yang meninggal maupun yang selamat harusnya jadi pengalaman berharga bagi kita manusia. Infeksi virus ini bisa meluas menjadi wabah endemik atau bahkan pandemik dan mengancam kehidupan di masa mendatang. [Nurhajati Husen & Barrarah bariid]

Sumber:

Parrish., Colin R et al, 2008, Cross species-virus transmission and the emergence of new epidemic disease, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2546865/ diakses tanggal 28 Januari 2020

Shick-Ryu., Wang, 2017, Molecular virology of Human pathogenic virus, Elsevier, London

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *