February 10, 2020 Admin 0Comment
unsplash.com/Sharon McCutcheon

Meskipun bahaya konsumsi gula berlebihan bagi kesehatan telah dikonfirmasi, namun tidak mudah untuk begitu saja membuang gula dari keseharian kita. Sebagai alternatif, diciptakanlah berbagai produk pemanis buatan yang diklaim rendah kalori tetapi tetap dapat memenuhi keinginan manusia terhadap rasa manis. Produk-produk ini dipasarkan dengan kampanye sebagai solusi aman untuk tetap dapat mengonsumsi makanan/minuman manis. Tetapi apakah benar produk-produk ini aman?

Pertanyaannya sebenarnya sudah terjawab oleh berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa pemanis rendah kalori, tetap saja dapat menyebabkan obesitas dan diabetes melitus tipe 2. Hal ini menunjukkan bahwa masalah bukan terletak pada kalori, tetapi juga pada rasa manis itu sendiri. Penelitian dari Universitas Illinois menunjukkan bahwa rasa manis memiliki efek terhadap metabolisme tubuh dan kontrol glukosa.

Pada penelitian ini, peneliti melakukan uji pada 21 orang yang terdiri dari 10 orang dengan berat badan normal, dan sisanya obesitas. Para volunter ini bukan penderita diabetes dan bukan pengguna pemanis buatan rutin. Kedua kelompok ini mendapat 3 perlakuan. Pertama, melakukan Oral Glucose Tolerance Test (OGTT) setelah meminum air suling, kedua OGTT setelah mengonsumsi 48 gram pemanis buatan sukralosa (setara dengan yang terkandung dalam soda), dan ketiga adalah melakukan OGTT setelah memasukkan dalam mulut larutan 75 gram glukosa ke dalam mulut selama 10 menit tanpa menelannya. Setelah perlakuan, dilakukan pengambilan sampel darah pada rentang waktu tertentu untuk kemudian dilakukan pemeriksaan respons tubuh terhadap ingesti glukosa ini. Ada 4 indikator yang di periksa, yaitu: kadar sukralosa dalam darah, insulin, glukosa, dan peptida-C.

Kesimpulan hasilnya adalah pada orang obesitas, konsumsi pemanis buatan membuat level insulin mereka meningkat secara tajam dibandingkan hanya mminum air putih dan sekadar menyicip rasa manis. Pada orang dengan berat badan normal, menelan pemanis buatan menyebabkan penurunan kadar insulin sedang dalam rentang 1 jam dan meningkatkan sensitivitas insulin sekitar 50%. Hal ini menunjukkan bahwa orang obes dan nonobes berespons terhadap asupan pemanis buatan secara berbeda. Meskipun begitu, fakta menariknya adalah baik pada penderita obes maupun nonobes, menyicip pemanis buatan sama-sama memiliki efek gangguan terhadap metabolisme tubuh, yaitu menurunkan respons insulin terhadap glukosa.

Penelitian ini menunjukan bahwa konsumsi pemanis bahkan yang berkalori rendahpun hanya boleh dalam jumlah yang moderat karena masalahnya bukan sekadar ada pada kandungan kalorinya saja, tetapi juga respons terhadap rasa manis itu sendiri. Meskipun begitu, karena penelitian ini hanya menguji sukralosa, maka hasilnya tidak bisa disamaratakan dengan semua pemanis buatan. Selain itu, uji ini masih akan dibuktikan lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar lagi. [Nurhajati Husen & Barrarah Bariid]

 

Sumber:

Sandoiu., Anna,.(2020)., Artificial Sweeteners: ‘Sweet taste itself ‘ may affect metabolism” Medicalnewstoday.com. Diambil pada 5 Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *