
Sejak awal kemunculannya pada akhir 2019 lalu, Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 3 juta orang dengan korban meninggal telah lebih dari 20 ribu jiwa. Mayoritas pasien meninggal disebabkan karena memiliki penyakit bawaan yang membuat keadaan pasien menurun drastis. Pasien dengan diabetes, gangguan paru-paru, dan hipertensi adalah kelompok yang rentan mengalami profil klinis yang buruk akibat Covid-19. Tetapi temuan baru ini menunjukkan informasi baru bahwa virus SARS-CoV-2 ini tak sekadar memperburuk kondisi klinis yang sebelumnya sudah eksis, tetapi dapat memicu gangguan serius, yaitu ruptur Jantung.
Seorang pasien di AS yang telah 6 hari mengalami gangguan seperti flu, ditemukan meninggal dunia. Awalnya ia diduga mengalami serangan jantung, namun uji swab menunjukkan adanya virus SARS-CoV-2 dalam tubuhnya. Setelah dilakukan autopsi, ditemukan bahwa virus telah menyebar hingga ke otot-otot jantung sang pasien. Virus ini kemudian diserang oleh sistem imun tubuh yang menyebabkan kerusakan pada otot-otot jantung dan pada akhirnya menyebabkan jantung pasien pecah. Kerusakan ini mirip dengan kerusakan yang terjadi pada orang yang mengalami gangguan kolesterol.
Penelitian ini melengkapi sejumlah penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 ini tak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang jantung meskipun tanpa gangguan jantung sebelumnya. Kaitan Covid-19 dengan gangguan jantung mulai terungkap beberapa waktu belakangan ini. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan Chloroquin pada pasien Covid-19 yang pada beberapa pasien menimbulkan gangguan irama jantung yang berbahaya. [Nurhajati Husen & Barrarah Bariid]
Sumber:
Rettner., Rachel, 2020, Coronavirus triggered a ‘ruptur heart’ in first reported US Covid-19 death, https://www.livescience.com/coronavirus-death-ruputured-heart.html/ diakses tanggal 29 April 2020
