
Upaya untuk menemukan terapi yang ampuh untuk Covid-19 dilakukan dengan berbagai pendekatan untuk menyudahi pandemi yang sudah berjalan sekitar 6 bulan ini. Selain pencarian obat dan vaksin yang efektif dan aman, pendekatan terapi yang juga sedang diupayakan adalah terapi darah konvalesens.
Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar baru, tetapi terapi jenis ini bukanlah hal baru. Penggunaannya dalam melawan infeksi sudah mencapai 100 tahun. Terapi ini pertama kali dikenal pada abad ke-19, saat Emil Von Behring dan bakteriologis Kitasato Shibasaburou menemukan adanya antibodi dalam serum, yang kemudian bisa digunakan untuk melawan infeksi difteri. Sejak saat itulah plasma digunakan baik untuk mengobati, maupun untuk mencegah berbagai penyakit infeksi, seperti: pneumonia, meningitis, measles (campak)dll.
Yang dimaksud dengan darah konvalesens sendiri adalah plasma darah yang berasal dari pasien-pasien yang berhasil sembuh dari suatu penyakit infeksi. Dalam darah survivor, terdapat antibodi yang dapat membunuh mikroba. Plasma darah dari survivor ini kemudian dimasukkan ke dalam tubuh orang lain, baik untuk mengobati atau mencegah infeksi yang sama.
Untuk Covid-19 sendiri, terapi ini bisa jadi efektif karena penelitian terbaru telah membuktikan bahwa dalam tubuh mereka yang sembuh dari Covid-19 terbentuk antibodi yang bereaksi terhadap virus Corona. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk menguji efektivitas terapi ini dan tentunya semua berharap hasil yang menggembirakan untuk segera menyudahi pandemi ini. Meskipun begitu, masih perlu ada pengujian lebih lanjut terutama untuk menjamin keamanan.
Sumber:
Cohut., Maria, 2020, Using Convalescent Blood to Treat Covid-19: The Whys and Hows, https://www.medicalnewstoday.com/articles/using-convalescent-blood-to-treat-covid-19-is-it-possible#A-therapy-used-for-over-100-years, diakses tanggal 2 Juni, 2020
