
Tahukah kamu? Meskipun sudah digunakan lebih dari 150 tahun yang lalu, namun para ilmuwan tidak benar-benar tahu mekanisme bagaimana caranya obat bius menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran. Demonstrasi pertama mengenai efek anestesi ini terjadi tahun 1846 di Rumah Sakit umum Massachussetts, Boston. Hal yang diketahui para ilmuwan adalah sebatas hubungan efek obat bius dengan solubilitasnya terhadap lipid pada membrane esel. Meskipun begitu, para ilmuwan yakin bahwa mekanisme hilang kesadaran akibat obat bius ini terkait dengan mekanisme tidur yang juga sama misteriusnya.
Namun, sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim dari Scripps Research’s Florida campus, Jupiter mulai memberikan titik terang untuk membuka tabir misteri obat bius ini. Tim ini menemukan bahwa obat bius menghilangkan kesadaran sesorang dengan cara memecah kluster lemak di membran yang disebut lipid raft (rakit lemak). Uji yang dilakukan menggunakan kloroform pada lalat buah menunjukkan bahwa kloroform menyebabkan struktur rakit lemak yang terjalin padat menjadi terurai. Pada kluster lemak ini, terdapat enzim yang disebut PLD2 yang saat kluster lemak terburai, akan mengaktifkan beberapa molekul diantaranya kanal ion kalium yang disebut TREK1. Aktivasi TREK1 ini menyebabkan neuron saraf ‘membeku’ dan tidak dapat diaktivasi oleh potensial aksi.
Meskipun peran PLD2 ini penting dalam proses pembiusan, namun bukanlah segalanya. Saat peneliti melakukan uji konfirmasi efek PLD2 dengan cara menghilangkan enzim ini dari tubuh lalat buah, mereka mendapati bahwa lalat buah ini masih bisa hilang kesadaran akibat kloroform, meskipun butuh dosis dua kali lebih besar. Ini menunjukkan bahwa masih ada mekanisme lain yang terlibat.
Sumber:
Bird., Eleanor, 2020, Scientists unravel the mistery of anesthesia, https://www.medicalnewstoday.com/articles/scientists-unravel-the-mystery-of-anesthesia, diakses tanggal 18 Juni 2020

