February 4, 2021 Admin 0Comment

Meskipun mayoritas pasien Covid-19 hanya mengalami gejala ringan, tetapi angkanya menjadi sangat banyak karena jumlah pasien terinfeksi yang sangat banyak. Hingga 30 Desember ini saja, tercatat jumlah orang terinfeksi SARS-C0V-2 telah melebih 82 juta orang dengan kematian mencapai hampir 1.8 juta jiwa. Berbagai bukti menunjukkan bahwa keparahan Covid-19 hingga mengancam nyawa ini terkait dengan gangguan pada fungsi sitokin, Interferon. Kekurangan interferon menyebabkan seseorang lebih suseptibel/rentan untuk terinfeksi COVID-19, sedangkan autoantibodi menyebabkan kemampuan Interferon melawan inflamasi yang ditimbulkan SARS-CoV-2 menjadi berkurang. Pada keadaan ideal, interferon yang dihasilkan baik oleh sel yang terinfeksi virus maupun oleh sel T akan mengaktifkan transduser sinyal dan aktivator komplek sinyal transkripsi (STAT) yang akan mengawali pembersihan pathogen maupun sel tumor.

Kekurangan dan autoantibodi terhadap Interferon ini kemudian ditelusur lebih lanjut oleh Zhang et al yang menemukan adanya mutasi gen yang menjadi pemicu gangguan pada interferon. Pengujian pada gen kandidat yang terlibat dalam regulasi Interferon tipe I dan tipe III menunjukkan bahwa mutasi pada dua gen ini terkait dengan parahnya gejala klinis pada Covid-19. Selain itu, Bastard et al menemukan bahwa pada 10 % orang dengan pneumonia parah akibat Covid-19, ditemukan  konsentrasi autoantibodi penetral terhadap Interferon tipe I, IFN- α2 dan IFN-ω dalam jumlah yang signfikan. Autoantobodi ini tidak ditemukan pada orang dengan tanpa gejala maupun orang dengan gejala ringan, dan juga orang sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *