
Peranan mikrobioma usus dalam penyakit-penyakit yang dimediasi proses inflamasi, tak lagi dapat dibantah. Keseimbangan antara respons pro-inflamasi dan anti-inflamasi di saluran cerna sangat dipengaruhi oleh mikrobioma usus. Ketika ketidakseimbangan terjadi, maka berkembanglah berbagai penyakit, antara lain: penyakit jantung, Inflammatory Bowel Disease (IBD), Systemic Lupus Erythematosus (SLE), dan artritis reumatoid. Komposisi mikrobioma usus ini berkaitan dengan jenis makanan yang dikonsumsi seseorang.
Sebuah penelitian menunjukkan hal ini. Analisis terhadap sampel feses berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi menunjukkan bagaimana konsumsi makanan berdampak langsung pada mikrobioma usus. Bakteri oportunistik, yaitu mikroba yang memicu peradangan misalnya golongan Firmicutes dan Ruminococcus sp. meningkat akibat konsumsi makanan olahan. Jenis lain yang juga memicu peradangan seperti Clostridium bolteae, Coprobacillus, dan Lachnospiraceae, akan meningkat akibat konsumsi daging, kentang goreng, dan minuman bersoda. Konsumsi makanan-makanan tersebut tanpa diimbangi dengan asupan serat yang cukup, menyebabkan bakteri merusak lapisan mukus proteksi dari saluran cerna.
Temuan lain yang juga patut digarisbawahi adalah, konsumsi kopi terkait dengan Oscillibacter, yaitu bakteri yang diyakini terkait dengan penyakit IBD. Alkohol dan gula juga meningkatkan populasi bakteri yang pro-peradangan ini. Untuk menekan pertumbuhan bakteri tidak bersahabat ini, sangat penting untuk mengonsumsi makanan non-olahan seperti roti, sayuran golongan legume seperti buncis, kacang tanah, dan berbagai makanan kacang-kacangan lainnya. Untuk lauk, ikan menjadi pilihan terbaik untuk meningkatkan bakteri baik.
Sumber:

