
Salah satu metode yang umum digunakan untuk mengawetkan spesimen adalah dengan merendam spesimen ke dalam larutan alkohol berkonsentrasi tinggi. Teknik ini disebut “pengawetan cair (fluid preservation). Metode ini sudah berusia 1600 tahun, dan digunakan oleh para ilmuwan untuk mengawetkan spesimen yang membuat mereka penasaran. Metode ini, jika dilakukan dengan benar, maka dapat mengawetkan hingga ratusan tahun lamanya.
Pertanyaannya adalah, mengapa alkohol dapat mengawetkan spesimen? Pada dasarnya, pengawetan adalah bagaimana mencegah proses penguraian spesimen oleh mikroorganisme, dan itulah yang dilakukan oleh alkohol. Perlu digarisbawahi bahwa pengawetan akan dimulai dengan menggunakan formalin untuk menghentikan proses enzimatik internal tubuh untuk mengurai jaringan. Baru setelahnya, dilakukan perendaman dengan etanol dengan konsentrasi yang tepat (umumnya 70%).
Konsentrasi alkohol yang tepat, sangat dibutuhkan untuk menghasilkan pengawetan yang sempurna. Alkohol yang terlalu pekat (95%), tidak lantas menjadi pilihan terbaik karena keberadaan air sangat dibutuhkan untuk menjaga agar spesimen tetap terdehidrasi dengan baik sehingga bentuknya tetap terjaga. Alkohol 95% menyebabkan dehidrasi. Itulah sebabnya, mengapa perlu takaran yang tepat agar konsentrasi etanol yang digunakan tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, untuk mencegah pembusukan sembari tetap menjaga bentuk spesimen.
Referensi:
Coffey., Donavyn, 2021, Why is alcohol used to preserve things? https://www.livescience.com/why-alcohol-preserves.html, Diakses tanggal 8 oktober 2021.

