August 12, 2022 Admin 0Comment

 

Isu melawan rasisme masih terus menjadi topik hangat yang menyita perhatian kita semua. Ada saja kejadian berkaitan rasisme yang sampai merenggut nyawa. Terlepas dari efek sosial yang ditimbulkan, bagi tenaga kesehatan isu rasisme adalah bagian dari analisis riwayat pasien karena terkait dengan risiko beberapa jenis penyakit salah satunya hipertensi. Kok bisa?

Sebuah studi dengan teknologi MRI memeriksa otak dari perempuan kulit hitam yang mendapatkan perlakuan rasisme mengalami berbagai gangguan kesehatan, yang paling sering adalah nyeri kronis, dislipidemia, diabetes, dan hipertensi. Setelah dilakukan scan MRI, diketahui bahwa pada otak mereka terjadi perubahan struktur, yaitu pada materi putih otak. Bagian otak satu ini merupakan lokasi dimana serabut saraf (akson) berkumpul. Akson adalah bagian saraf yang berperan dalam pertukaran informasi antar-bagian otak. Materi putih memengaruhi proses belajar, dan fungsi-fungsi otak lain, modulasi distribusi potensial aksi, dan tentunya komunikasi antar-bagian otak.

Hasil MRI menunjukkan bahwa pada mereka dengan pengalaman rasisme dan mengalami penyakit-penyakit tersebut di atas, terjadi pengurangan integritas dari materi putih terutama pada bagian anterior korpus kallosum dan gulungan (bundle) cingulum. Secara spesifik, gangguan di area ini menyebabkan disregulasi pada kecerdasan, dan proses emosi, yaitu pada kontrol terhadap impuls. Tidak heran jika kemudian mereka lebih rentan terhadap gangguan psikologis, seperti depresi, cemas, dan stres, yang meningkatkan risiko penyakit degenerative seperti hipertensi, dan diabetes.

Temuan ini menjadi peringatan bagi kita bahwa kekerasan psikis itu berbahaya dan tidak boleh diabaikan.

https://www.medicalnewstoday.com/articles/exposure-to-racism-linked-to-brain-changes-that-may-affect-health

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *