TAHUKAH KAMU?
Sektor Makanan menyumbang 25% gas emisi, 32% penggunaan energi global, menggunakan 69% konsumsi air bersih, 80% deforestasi dan kerusakan elastisitas tanah dan lautan.
Meskipun teknik dan pengetahuan mengenai ilmu gizi terus berkembang, dunia tetap saja berjalan menuju krisis diabetes dan obesitas global. Tak ada satupun negara yang mengalami penurunan angka obesitas dan DM tipe 2. Pada saat yang bersamaan, data menunjukkan bahwa gizi buruk menyumbang 41% jumlah kasus kematian di seluruh dunia! Ini tetap terjadi meskipun industri sektor makanan telah melakukan 80% deforestasi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ironis!
Musuh Global bernama Obesitas & DM tipe 2!

Dahulu, jaringan lemak dalam tubuh hanya dianggap sebagai kelebihan simpanan makanan dalam tubuh. Sampai kemudian penelitian demi penelitian menunjukkan hal yang sama sekali berbeda. Kelebihan cadangan makanan ini merupakan bom waktu yang terlibat dalam berkembangnya sejumlah penyakit seperti hipertensi, kanker, gout, dan DM tipe 2 yang bersama-sama dengan obesitas memasuki tahap krisis karena jumlahnya yang meningkat berkali-kali lipat. Obesitas dan DM memiliki ikatan “kekariban” yang saling menguatkan kemampuan merusak satu sama lain, obesitas dapat memicu DM, dan obesitas memperparah DM.
Peningkatan kasus obesitas yang mencapai 3 kali lipat, juga merefleksikan peningkatan risiko DM. Peningkatan angka DM ini juga harus dibayar mahal. Bukan saja meningkatkan beban akibat biaya penanganan kesehatan yang meningkat, tetapi juga penurunan produktivitas yang semakin menekan keluarga pasien dengan diabetes.
Menghadapi kondisi ini, berbagai upaya penemuan obat baru, kampanye pola hidup sehat, rekomendasi diet dan olahraga yang diformulasikan oleh pakar-pakar berkompetensi, tak cukup manjur untuk mengerem laju penambahan kasus. Fakta baru yang lebih memprihatinkan adalah, terjadi pergeseran tren. Jika dulu obesitas dan DM terutama terjadi pada orang-orang di wilayah perkotaan, kini justru bergeser ke wilayah pedesaan.
Dengan kasus merata tanpa daerah endemik tertentu (bahkan Jepang yang dikenal memiliki pola makan yang baik dan jauh dari obesitas, nyatanya menjadi salah satu negara dengan peningkatan obesitas yang signifikan bahkan melebihi AS), tak salah jika obesitas dan DM disebut sebagai musuh global karena akibat negatif yang ditimbulkannya.
Ironi kemajuan Teknologi!
Sejak masa Renaissans hingga kini, manusia telah banyak membuat lonjakan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang. Dalam sektor makanan, penemuan GMO membuat manusia berhasil mengakhiri periode krisis sumber pangan. Jagung tumbuh lebih besar, lebih banyak bonggol, dan masa panen lebih pendek, begitupun komoditas pangan lainnya. Pekerjaan memanen, mengolah lahan pertanian pun dipermudah dengan traktor dan mesin pemanen yang tak hanya efektif tetapi juga efisien. Semuanya menjadi lebih hemat waktu dan tenaga.
Makanan pun kini memasuki era baru. Bukan hanya sebagai kebutuhan primer untuk bertahan hidup, tetapi juga kebutuhan sekunder bahkan tersier! Bagian dari gaya hidup. Pergeseran ini menjadikan industri makanan menjadi sektor peraup keuntungan miliaran rupiah bahkan triliunan setiap tahunnya. Berbagai jenis makanan baru dikembangkan, yang sayangnya kaya rasa, menarik secara penampilan, tetapi miskin dalam hal kandungan gizi.
Pasokan makanan kini berlimpah, proses pengolahan menjadi efisien dengan pengembangan teknik dan teknologi penyajian makanan baru yang membuat akses terhadap makanan menjadi cepat, mudah, dan murah. Manusia moderen makan lebih banyak dan lebih sering dibandingkan leluhurnya (meskipun ini tidak terjadi di sejumlah negara). Awalnya ini tampak sebagai sesuatu yang baik sampai kemudian kelimpahan ini dibayar dengan peningkatan angka obesitas dan akibat yang menyertainya. Dalam hal makanan, kemajuan peradaban menggeser manusia dari krisis kuantitas ke krisis kualitas.
Sekarang, meskipun diabetes dan obesitas telah menjadi krisis kesehatan yang mengancam jutaan penduduk bumi, tetapi tampaknya belum ada nada perubahan berarti. Tanyakan pada orang-orang di sekitarmu, apakah mereka ingin sehat dan terhindar dari obesitas apa pun alasannya? Hampir pasti jawabannya akan selalu Ya. Tetapi apakah mereka mau menyerah dengan godaan produk-produk makanan tidak sehat yang berlimpah dengan harga murah dan mudah dijangkau ini? [Nurhajati Husen & Barrarah Bariid]
Referensi:
Mozaffarian., dariush., 2020., Dietary Policty Priorities to reduces the Global Crises of Obesity ad Diabetes. https://www.nature.com/articles/s43016-019-0013-1 diakses tanggal 14/01/2020
Tunceli., Kaan et al., 2005., The Impact of Diabetes on Employment and Work Productivity., https://care.diabetesjournals.org/content/28/11/2662, dikses tanggal 15/01/2020

