
Dengan semakin bertambahnya korban berjatuhan akibat penyakit Covid-19, pertanyaan apakah virus ini airborne atau tidak, semakin menyeruak di ruang publik. Berbagai pihak, telah mengeluarkan pernyataan bahwa virus ini menyebar melalui droplet, tetapi sebuah pengujian yang dipublikasikan di NEJM, menunjukkan bahwa virus ini dapat bertahan hingga 3 jam di udara dalam bentuk aerosol. Apakah itu berarti virus ini adalah,virus yang dapat tersebar di udara? Mari kita ulas!
Menentukan apakah suatu jenis virus airborne atau tidak adalah hal yang sangat penting untuk menentukan langkah pencegahan. Virus yang menyebar melalui udara akan sangat membahayakan karena akan memakan jauh lebih banyak korban. Udara menyebar ke segala arah dengan kecepatan yang bisa sangat variatif, dan siapa pun itu harus menghirup udara untuk kehidupannya. Jadi, penyebaran virus mematikan melalui udara sejatinya adalah bahaya yang sangat menakutkan.
Untuk membuktikan hal ini, sejumlah penelitian telah dilakukan, antara lain di Wuhan, dan Singapura. Di Wuhan, peneliti mengambil sampel udara di area keramaian RS, dan 2 pusat perbelanjaan. Di Singapura, sampel udara berasal dari ruang isolasi pasien Covid-19, hal yang serupa dilakukan pula di Nebraska. Hasilnya adalah positif, yaitu ditemukan SARS-CoV-2 dalam sampel yang telah dikumpulkan. Hasil ini menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 dapat disebarkan melalui udara.
Ada satu catatan menarik yang harus digarisbawahi dari temuan di ruang isolasi. Udara di ruangan restriktif ini, tetap mengandung virus SARS-CoV-2, meskipun pasien yang diisolasi tidak mengalami batuk ataupun bersin. Hal ini berarti, virus keluar dalam bentuk aerosol saat pasien berbicara atau bahkan bernapas. Meskipun temuan ini masih preeliminer, tetapi sangat patut untuk diwaspadai.
Akan tetapi, yang jadi catatan pentingnya adalah, apakah dengan ditemukannya virus penyebab Covid-19 di udara, apakah lantas bisa disebut airborne? Belum tentu. Penelitian lain ternyata gagal menemukan virus pada area 10 cm dari pasien Covid-19, yang artinya penyebarannya hanya lokal saja. Dengan demikian, sangat penting untuk menjaga jarak dengan pasien Covid-19 meskipun pasiennya tidak bersin ataupun batuk. Selain transmisi udara, faktor lain yang juga memengaruhi risiko terinfeksi adalah lama terpapar dan jumlah virus yang masuk. Tidak semua tarikan napas pasien Covid-19 mengandung virus, tetapi jika seseorang berbagi ruang udara yang sama dengan penderita Covid-19 selama setidaknya 45 menit, maka jumlah virus yang masuk ke dalam saluran napas orang tersebut sudah cukup untuk menimbulkan infeksi.
Sekali lagi, temuan-temuan ini masih bersifat permulaan dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun, ini menjadi catatan untuk meningkatkan kewaspadaan. Anjuran untuk memakai masker meskipun bukan pasien Covid-19, adalah perlindungan dua arah, untuk kepentingan bersama dalam menghentikan penularan virus yang sudah membunuh lebih dari 126.000 jiwa ini.
Sumber:
Lewis., Dyani., 2020, Is the Coronavirus Airborne? Experts Can’t Agree, https://www.nature.com/articles/d41586-020-00974-w/ diakses tanggal 14 April, 2020
