
Glioblastoma adalah jenis kanker ganas yang sangat agresif. Jenis kanker ini menyerang otak dan medulla spinalis dan terbentuk dari sel penopang otak yang bernama astrosit. Pasien yang menderita penyakit ini akan mengalami sakit kepala hebat, mual, muntah, dan kejang. Pengobatan penyakit ini sangat sulit bahkan hampir tidak mungkin disembuhkan. Pengobatan yang tersedia saat ini hanya mampu memperlambat progres penyakit dan membantu mengurangi tanda dan gejala saja. Tak heran jika upaya untuk mencari obat penyakit ini sangat gencar dilakukan.
Salah satu obat yang saat ini diteliti adalah obat malaria, yaitu lumefantrine. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Paul Fischer dan tim dari departemen manusia dan genetika molekuler universitas Virginia Commonwealth, obat ini memiliki kemampuan untuk meningkatkan efektivitas obat primer Glioblastoma. Lumefantrine disebut mampu menurunkan resistansi glioblastoma sehingga lebih sensitif terhadap pengobatan baik dengan radiasi maupun kemoterapi menggunakan temozolomida. Kesimpulan ini diambil setelah uji in vitro ataupun uji in vivo yang dilakukan menunjukkan bahwa penambahan lumefantrine, membuat radiasi dan temozolomida mampu membunuh sel kanker bahkan menghambat pertumbuhan sel kanker baru.
Lalu, mengapa lumefantrine mampu menurunkan resistansi glioblastoma? Resistansi sel glioblastoma terkait dengan Heat Shock Protein B1 (HSPB1). Protein ini sangat umum ditemukan pada orang dengan glioblastoma, dan terlibat dalam resistansi glioblastoma terhadap radiasi dan temozolamida. Regulasi protein ini diatur oleh elemen genetika Fli-1. Lumefantrine mampu menghambat elemen ini sehingga secara tidak langsung menghambat HSPB1. Obat ini sebenarnya juga bersifat toksik bagi sel, tetapi selektif. Itu sebabnya para peneliti yakin bahwa obat ini adalah kandidat tepat untuk dimanfaatkan dalam pengobatan glioblastoma. [Nurhajati Husen & Barrarah Bariid]
Sumber:
Berman., Robby, 2020, Antimalarial Drugs Boosts Glioblastoma Treatment? https://www.medicalnewstoday.com/articles/antimalarial-drug-boosts-glioblastoma-treatment#Heat-shock-protein-B1-and-Fli-1, diakses tanggal 8 Juni 2020.

