July 1, 2019 Admin 0Comment

Penyakit Artritis Reumatoid (RA) adalah salah satu jenis penyakit autoimun yang tidak bisa disembuhkan. Terapi RA hanya ditujukan untuk mencegah, mengurangi aktivitas penyakit, mengontrol gejala dan memperlambat progres penyakit. Salah satu strategi untuk mengontrol gejala adalah dengan terapi anti-nyeri dan anti-inflamasi menggunakan obat-obat antinyeri dan antiinflamasi dari golongan OAINS atau Kortikosteroid yang punya efek samping jangka panjang dan sering kali menimbulkan masalah lain yang bisa jadi serius.

Credit pic: Unsplash.com/Chinh Le Duc

Efek samping dari penggunaan anti-inflamasi dan antinyeri ini terutama adalah gangguan saluran cerna. RA memang dapat terjadi pada usia berapa pun, tetapi prevalensinya meningkat sampai pada dekade ketujuh kehidupan. Artinya, gangguan ini umumnya ditemukan pada usia lansia yang bisa jadi memiliki gangguan-gangguan penyakit lain yang kontraindikasi dengan penggunaan OAINS dan kortikosteroid. Contohnya, diabetes melitus, hipertensi, gangguan ginjal, dan gagal jantung.
Oleh karena itulah, terapi alternatif yang aman menjadi kebutuhan yang perlu diusahakan. Salah satu jenis terapi alternatif yang ditawarkan adalah terapi menggunakan turmerik atau lebih dikenal dengan kunyit. Bumbu umum di Indonesia ini memiliki kandungan kurkumin yang telah terbukti memiliki aktivitas anti-inflamasi anti-inflamasi yang baik. Berdasarkan artikel review yang dipublikasikan tahun 2015 lalu, kunyit tidak hanya memiliki efek anti-inflamasi, tetapi juga punya khasiat antioksidan, menurunkan kadar gula darah, bahkan anti-kanker.

Mekanisme Kerja Kurkumin
Khasiat kurkumin sebagai anti-inflamasi dihasilkan dari upregulasi aktivasi terhadap peroxisome proliferator-activated receptor-γ (PPAR-γ). Peradangan merupakan proses patofisiologi yang melibatkan berbagai mediator inflamasi. Aktivasi PPAR-γ mengatasi inflamasi dengan cara mengantagonis aksi dari nuclear factor κB (NFκB) dalam makrofag dan faktor-faktor yang mengatur interferon. Hasilnya adalah downregulasi (penurunan produksi) sitokin-sitokin proinflamasi gen-gen.

Apakah Terapi Kunyit Efektif?
Berdasarkan review sistematik yang dilakukan tahun 2016 dari 6 uji klinik, kunyit bisa jadi sama efektifnya dengan OAINS untuk mengatasi gejala RA, meskipun belum ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa konsumsi 1000 mg kurkumin setiap harinya selama 8-12 minggu dapat mengurangi nyeri dan inflamasi karena RA. Untuk itu, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk benar-benar membuktikan khasiat kurkumin ini. Meskipun begitu, kurkumin tetap direkomendasikan sebagai terapi pelengkap atau suplemen makanan untuk membantu terapi konvensional RA.
Penelitian yang dilakukan tahun 2017 terhadap 36 pasien RA yang mendapatkan terapi kurkumin, mengalami perbaikan signifikan setelah 90 hari terapi dibandingkan kelompok plasebo. Penelitian terbaru yang dilakukan 2018, mengindikasikan bahwa kurkumin dapat mengurangi peradangan dan kemerahan pada tikus dengan cara memblok sinyal pada jalur mTOR. Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa kurkumin potensial untuk pengobatan RA.

Kesimpulan
Meskipun masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan pembuktian yang stabil, tetapi sejauh ini kunyit dengan kandungan kurkumin di dalamnya menunjukkan efikasi yang , menjanjikan untuk penanganan RA di masa mendatang dengan profil keamanan efek samping yang diharapkan lebih baik daripada OAINS konvensional.

Sumber:
https://www.medicalnewstoday.com/articles/325508.php
https://www.hindawi.com/journals/ppar/2015/549691/
Jaco., Asha, et al, 2008, Mechanism of the Anti-inflammatory Effect of Curcumin: PPAR-γ Activation http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2234255/
Kapadia., Ramya, et al, 2009, Mechanisms of anti-inflammatory and neuroprotective actions of PPAR-gamma agonists, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2734868/pdf/nihms107429.pdf

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *