August 29, 2019 Admin 0Comment

Salah satu masalah dalam terapi depresi dan ansietas adalah efektivitas obat yang tidak sama antar-satu pasien dengan lainnya.  Hal inilah yang mendasari upaya para peneliti untuk tidak hanya mencari jenis obat baru, namun juga menemukan jalur terapi lain yang efektif untuk mengatasi kedua gangguan neurologis tersebut.

Selama ini, obat-obat yang tersedia untuk mengatasi depresi dan ansietas menggunakan dua jalur mekanisme kerja, yaitu interaksi dengan serotonin, atau dengan noradrenalin. Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan, resveratrol yang banyak terkandung dalam kulit anggur dan berri-berrian ternyata memiliki efek antidepresan dengan mekanisme kerja yang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya.

Efek antidepresan resveratrol berbeda dengan jalur konvensional yang sudah dikenal. Resveratrol bekerja dengan meningkatkan level cAMP (Siklik Adenosin Monofosfat). cAMP merupakan molekul second messenger yang berfungsi merespons sinyal dari luar sel (misalnya, dari hormon) untuk kemudian disampaikan pada bagian sel yang relevan.  Lalu apa hubungannya cAMP dengan depresi dan ansietas?

Pic: Unsplash.com/Maja Petric

Menurut sejumlah studi awal,  terjadi peningkatan jumlah enzim dari famili PDE4, tepatnya PDE4D pada keadaan depresi. Enzim PDE4 ini berfungsi memecah cAMP dan mengatur regulasinya dalam sel. Dengan kata lain, ada kaitan antara penurunan cAMP yang diperantarai PDE4 ini dengan terjadinya depresi/ansietas.

Salah satu teori depresi yang dikenal adalah hipotesis glikokortikoid. Menurut teori ini, depresi terjadi karena tubuh mengeluarkan  hormon kortisol secara berlebihan (berkepanjangan). Kortisol sebenarnya berperan penting bagi tubuh saat menghadapi stres. Namun jika berkepanjangan, maka kortisol dapat menyebabkan lesi pada sel-sel otak terutama di hipokampus dan meningkatkan level PDE4 yang kemudian memecah cAMP dan menganggu fungsi cAMP sebagai reseptor dan penerus sinyal.

Resveratrol dapat membalikkan efek peningkatan PDE4 ini dan berfungsi sebagai antidepresan. Tentu ini masih temuan awal yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut dalam segala faktor. Namun jika hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan, maka ini akan menjadi pilihan terapi yang menjanjikan dalam hal keamanan, dan juga pengembangan obat baru berbasis penghambatan PDE4. [Author: Nurhajati Husen, Editor: Barrarah Bariid]

 

Sumber:

Medicalnewstoday.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *